Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Sudahkah Kau Baca?

HomeTentang Blog Ini
------ SUDAHKAH KAUBACA? ------- adalah blog review buku yang ditujukan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan informasi berkaitan dengan buku-buku yang telah terbit. Semoga kehadiran blog ini memberi manfaat, bagi siapa saja. Tanpa kecuali. Amin.

Blog EntryMay 1, '12 9:06 AM
for everyone
1000 Kucing Untuk Kakek
karya Suyadi

Terbit 2004 oleh Penerbit Djambatan (cetakan pertama 1974) | Binding: - | ISBN: 979-428-535-8 | Tebal: 38 halaman

KUCING. Ini barangkali sosok yang paling dekat dengan sosok kehidupan Suyadi. Mainlah ke rumah Suyadi atau Pak Raden ini dan minta ia untuk menceritakan tentang Si Kachung dan Si Pushy, dua dari kucing yang kini menemani masa tuanya. Maka langsung dengan riang, penulis ini akan bertutur banyak tentang kucing-kucing ini. Pada masa lalu, penulis ini pernah memelihara lebih dari 30 kucing di rumahnya.

Sesudah itu, maka tak sulit untuk menemukan tali-temali kenapa akhirnya penulis ini menganggap buku cerita "1000 Kucing untuk Kakek" ini sebagai masterpiece-nya. Salah satu kredo teknik penulisan adalah "tulislah apa yang paling kamu kuasai dan cintai" maka cerita ini adalah salah satu buktinya.

Cerita "1000 Kucing untuk Kakek" ini dimulai dengan sederhana. Di situasi malam yang gelap, kakek dan nenek berbincang-bincang. Kakek punya gagasan untuk memelihara anak kucing kecil, untuk mengisi hari-hari mereka berdua. Kakek dan nenek itu tidak punya anak apalagi cucu. Itu sebabnya, kakek ingin anak kucing untuk disayang.

Esoknya, nenek diminta mencari kucing. Kenapa nenek? Karena nenek setiap hari pergi ke pasar dan di pasar ada begitu banyak orang yang bisa dimintai anak kucing. Maka nenek pun pergi dengan misi mencari anak kucing itu.

Sampai di sini, pembaca disuguhi pertanyaan: berhasilkah nenek menemukan anak kucing? Logikanya harusnya tidak sulit. Bukankah kita sering melihat anak kucing terlantar. Tapi penulis begitu piawai mempermainkan pembaca. Misi nenek gagal total. Di rumah, ia temui kakek yang juga gagal total cari anak kucing.

Lalu bagaimana? Saya pikir ada baiknya saya berhenti bercerita dan teman-teman yang penasaran mencari buku cerita ini. Buku ini merupakan salah satu bukti kepiawaian bercerita yang mengingatkan saya pada penulis skenario Star Wars George Lukas, sekali waktu ia berujar "A lot of people like to do certain things, but they're not that good at it. Keep going through the things that you like to do, until you find something that you actually seem to be extremely good at. It can be anything."

Sekarang saat saya membaca buku cerita ini sambil kemudian mengingat Suyadi, saya menemukan korelasi yang teramat dekat. Bukan mengenai kucing dan usia tua, tetapi tentang rasa sepi yang ia alami. Betapapun, ia menyimpan harapan di hari tuanya Pak Raden masih ingin dekat dan disapa oleh para pembaca cilik.

5/5

Blog EntryMay 1, '12 6:14 AM
for everyone
Pedagang Peci Kecurian
karya Suyadi

Terbit 2004 oleh Penerbit Djambatan (cetakan pertama Februari 1971) | Binding: - | ISBN: 979-428-534-X | Tebal: 26 halaman

MEMILIKI anak kecil menjadikan saya bertanggungjawab untuk mencarikan cerita yang menghiburnya, tapi lebih penting lagi mengisinya dengan kekayaan cerita lokal. Saya tak pernah berpikir untuk menjejali anak saya dengan cerita penyihir, drakula, atau pangeran berkuda. Sesederhana saya tak ingin meninabobokan dia dengan cerita yang terlalu jauh dari kenyataan.

Maka menemukan buku ini, yang ditulis oleh Suyadi, yang akrab dikenal sebagai Pak Raden, kreator cerita boneka Si Unyil, laksana menemukan apa yang saya cari itu. Cerita lokal, dengan tokoh-tokoh yang lokal, dan ternyata, menghiburnya. Apa yang istimewa dari cerita Suyadi berjudul "Pedagang peci kecurian" ini?

Pertama, dia tidak buru-buru membebani cerita dengan pesan moral. Suyadi bercerita tentang pedagang peci, yang menjajakan peci keliling desa. Capek berjualan, dia istirahat di bawah pohon. Pembukaan cerita ini ringan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita hanya menduga akan ada pencuri, itupun dari judulnya. Tapi siapa yang mencuri? Penulis pandai menyembunyikannya.

Cerita berlanjut, ternyata saat tertidur itulah, ada banyak kera turun dari pohon, lalu mencuri peci dan memakainya di kepala mereka. Kejadian itu terjadi di halaman kelima, belum terlalu jauh dari depan. Kedua, dituliskan dengan teknik cerita modern. Penulis secara cerdik meletakkan setiap kejadian dalam tempo yang terukur. Seperti halnya teknik penceritaan modern, "we enter fast, but then leave early". Apa yang terjadi kemudian antara pedagang peci dan kera ini dengan sungguh luar biasa telah membuat anak saya yang masih di bawah 4 tahun itu tertawa-tawa tanpa henti.

Ketiga tentang pesan moral, bukannya tidak ada. Secara apik, penulis meletakannya secara implisit. Dengan halus ia berkata yang membedakan manusia dengan kera adalah manusia menggunakan otaknya untuk berpikir, tak seperti kera yang bodoh. Tetapi pesan ini tak perlu digembar-gemborkan dari sejak awal cerita.

Yang dapat saya katakan, cerita anak lokal ini dituliskan dengan baik dan berkelas. Kaya teknik cerita, ilustrasinya yang digambar sendiri oleh penulis menawan, dan gabungan keduanya menunjukkan kekayaan cerita anak lokal kita.

5/5

Blog EntryApr 27, '12 8:57 AM
for everyone
Di dekat saya sekarang ada tumpukan buku-buku anak lokal. Empat di antaranya adalah buku anak lokal karya Drs. Suyadi atau yang akrab dipanggil Pak Raden. Dia penulis hebat. Keempatnya ini hanya sebagian kecil dari karya tulisnya.

Selain buku Pak Raden, ada juga karya Clara Ng terbaru. Judulnya Dongeng Sekolah Tebing. Berisi 52 cerita dan mulai saya baca juga satu persatu untuk saya dan anak saya.

Buat apa saya baca buku anak lokal? Pertama karena ingin mengulas. Kedua, karena penasaran seperti apa buku anak zaman sekarang. Nanti saya share hasil bacaannya.


Kejadiannya bulan Maret lalu. Kebetulan Pak Raden memang sedang jadi juri untuk lomba melukis di kantor. Jadi ini bukan kejadian yang dirancang. Sebuah kebetulan. Kebetulan saya sedang mulai menggulirkan kampanye soal buku anak lokal, kebetulan Pak Raden mendongeng, kemudian saya lihat beliau sudah menua, dan harus banting tulang untuk menyambung hidup sehari-hari.

Trus saya dengar dari Prasodjo Chusnato kalau hak royalti Si Unyil tidak berada di tangan Drs. Suyadi tapi ada di PFN, lalu lama kelamaan menggelinding sendiri sampai ke niatan Pak Raden untuk ngamen.

Penampakan Video di Youtube: Film Boneka Si Unyil

Begitulah perjumpaan itu, memunculkan perjumpaan lain yang tak pernah terkira sebelumnya.

Bagaimanapun saya ini tadinya cuma penonton Pak Raden di layar kaca...
Bagaimanapun saya ini tadinya cuma pembaca buku anak lokal buatannya...

Kalau akhirnya saya terlibat di perjumpaan berikutnya, semoga perjumpaan itu akan berbuah nyata.

Blog EntryApr 3, '12 3:57 AM
for everyone
Aan Mansyur, sastrawan muda dari Makasar ini kukenal sejak tahun 2008-2009. Bahkan ia pernah mengirimi aku buku puisinya "Aku Hendak Pindah Rumah". Aku pikir sastrawan muda ini patut diacungi jempol dengan kegigihannya membangun kantong sastra dan kebudayaan di negeri bagian Timur Indonesia sana.

Baru pada tahun 2012, akhirnya Aan Mansyur bisa kujumpai. Dan ia memamerkan buku terbarunya, buah transformasinya menjadi buah tomat, buah kesukaannya yang disangkanya 'apel' karena ulah neneknya.

Betapa menyenangkan, akhirnya juga mendapat cinderamata pesan-pesan saktinya di dalam buku puisinya itu.

Blog EntryFeb 9, '12 10:51 PM
for everyone
Penulis Morra Quatro ini sebenarnya teman dari istri saya. Begitu tahu siapa saya, langsung ia memberi buku pertamanya "Forgiven". Tahun ini, ia kembali lagi mengirim buku keduanya ke saya. Warnanya ungu dan berjudul "Believe: Karena Cinta Aku Percaya".


Sedang "Lumpur" karya Yazid R. Passandre dikirimkan oleh seorang kawan lama. Katanya saya pasti akan suka dengan cerita ini, yang sejatinya akan menjadi awal dari sebuah trilogi. Terima kasih untuk kirimannya.

Mari membaca lagi.

Blog EntryFeb 6, '12 7:21 AM
for everyone
Tiga Manula: Jalan-Jalan ke Singapura
karya Benny Rachmadi

Terbit Desember 2011 oleh Penerbit KPG | Binding: - | ISBN: 9789799104045 | Halaman: 92

LANSKAP dunia komik Indonesia kedatangan bukan hanya satu, tapi tiga wajah baru. Ketiganya memiliki kesamaan: sama-sama manula. Manula itu kependekan dari MANusia Usia LAnjut, sebuah istilah yang lahirnya berbarengan dengan singkatan Balita dari Dinas Kesehatan (dinkes). Istilah ini boleh dibilang sudah 'kuno' dan 'tak lagi dipakai'. Banyak yang keberatan dengan pemakaian kata 'manula' yang dinilai kasar.

Di UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, istilah 'manula' sudah diganti dengan bahasa resmi Lanjut Usia atau biasa disingkat Lansia. Biasa lah, ganti menteri, ganti kebijakan, ganti cara panggil. Tapi semua merujuk hal yang sama: orang yang biasa kita panggil kakek, mbah, engkong, dll. Masyarakat Indonesia memiliki cara pandang unik pada generasi ini. Secara antropologis, kedudukan generasi ini seringkali didudukkan sebagai orang yang perlu didengar pendapatnya.

Itu sebabnya, barangkali Benny Rachmadi, menaruh tiga karakter ini dalam rentang umur yang renta. Ketiganya berusia 70 tahunan dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda: Mbah Waluyo (76 tahun), Engkong Sanip (72 thn) dan Liem (68 thn), lengkap dengan karakter dan visual yang berbeda. Celotehan mereka bukan sekedar banyolan, menurut saya, tetapi sebuah upaya reflektif.

Apa yang hendak direfleksikan? Dalam kisah "Jalan-Jalan ke Singapura" ini, Liem mentraktir kedua sahabatnya, Waluyo dan Sanip, jalan-jalan ke negeri tetangga, Singapura. Tentu ini suatu pengalaman baru Sanip dan Waluyo karena seumur hidup mereka belum pernah sekalipun keluar negeri. Entah apa alasannya. Barangkali ekonomi.

Geger terjadi. Masyarakat modern dan sedinamis Singapura, harus kedatangan tiga karakter yang polos dan 'ndeso'. Keluarlah minyak angin PPO yang membuat seluruh pesawat mabok, rokok klembak menyan yang baunya disangka mariyuana, mandi di kolam Merlion, nyebrang jalan, dll.

Tapi sendeso dan sepolosnya tiga manula itu, tetap kita bisa mendapat wejangan, bukan sekedar sindiran tentang manusia Indonesia. Jangan konsumtif seperti orang-orang yang menghamburkan uang di Orchard Road. Jangan gila gadget. Hormati orang tua dengan memberi hak duduk nyaman di MRT. Indonesia memang perlu berkaca dari Singapura. Dari sana, saya kemudian paham kenapa settingnya harus di Singapura. Karena bila meletakkan tiga karakter baru itu di Jakarta, kita hanya akan menganggap tiga manula ini tak lebih dari kakek-kakek nyinyir.

Siapa pencipta tiga karakter ini? Tak lain tak bukan adalah Benny Rachmadi. Betul, ini karyanya terbaru selepas 100 Peristiwa. Masih jeli, masih reflektif. Satu hal yang saya soroti sebagai keberhasilan Benny Rachmadi adalah tidak terjebaknya Benny untuk menstereotipekan tiga karakter ini. Tidak kita temukan kata-kata selipan bahasa Tionghoa, Betawi, atau Jawa di sini. Semua tampil sama: wajah dan pribadi Indonesia.

Dua hal yang saya sayangkan tidak muncul di komik ini: bagian urusan bikin paspor, pastinya Benny bisa mengkritik pihak imigrasi yang rakus uang. Juga urusan di Bandara lengkap dengan segala kerepotan pemeriksaan X-ray hingga kapal gak on-time. Tapi tanpa kedua hal itupun, saya menyambut baik dan menantikan kisah Tiga Manula selanjutnya.

Rating: 3/5

Dapat dua buku ini dari Pax Benedanto, selepas makan siang bersama sambil ngobrol tentang pemanfaatan social media untuk mempublikasikan buku.



"Tiga Manula" adalah karya komik terbaru Benny Rachmadi, usai tahun lalu ia juga menerbitkan komik sendirian tak lagi bersama Mice.

Sedang "Cerita Cinta Enrico" adalah karya terbaru Ayu Utami, yang kini digadang sebagai penulis cerita romantis berlatar sejarah. Pax menambahkan buku yang ini baru ada di pasaran akhir Februari nanti. Wah, saya termasuk pembaca pertama donk ya.

Tunggu sharing baca saya ya.

Blog EntryJan 27, '12 7:08 AM
for everyone
Nasional.is.me
karya Pandji Pragiwaksono

Terbit 2011 oleh Bentang Pustaka | ISBN: 9786028811538 | Binding: Paperback | Tebal: 330 halaman

Timbangan ini dimuat di Harian Detik pagi, 21 Januari 2012

KEUNGGULAN buku ini ada dari sisi penulisnya, Pandji Pragiwaksono. Figur muda yang dikenal banyak orang karena konsistensinya mencintai Indonesia apa adanya serta tidak muluk dan mencemooh Indonesia.

Buku ini memuat gagasan cara menyikapi situasi negara saat ini yang dirundung kegelisahan akibat banyak ketidakjelasan. Juga menyikapi persoalan perbedaan-perbedaan di dalam bangsa yang berujung bukan pada persatuan dari sekian banyak perbedaan, melainkan pemaksaan penyatuan.

Buku ini memperlihatkan optimisme penulisnya, yang memilih mencoba memperbaiki Indonesia daripada sekedar murung. Menurut saya, ide buku Nasional.is.me ini biasa. Eksekusi juga biasa. Saya pernah membaca buku serupa oleh penulis anonim dengan judul Kopi Merah Putih. Buku itu lebih memberi perluasan wawasan.

Rating: 2/5

NOVEL ini saya dapatkan mungkin karena pernah menang kuisnya tahun lalu, tetapi saya anggap buntelan ini jauh lebih berharga daripada sekedar hadiah kuis. Karena di dalamnya Maggie menuliskan hal yang sangat berarti untuk saya:

"Dear Amang -

Thank you for all your
support and for being
an all-around fun company.
I hope you'll enjoy Nicky's journey.

All the Best,

Maggie"

Sudah pasti saya akan menikmati novel ini. Sejak membaca ARC-nya, saya sudah kepincut oleh Nicky dan petualangannya ini.

Blog EntrySep 29, '11 7:52 AM
for everyone
Hidup Berawal dari Mimpi
karya Fahd Djibran, Bondan Prakoso & Fade 2 Black (Kontributor)

Terbit Agustus 2011 oleh Kurniaesa Publishing | Binding: Paperback | ISBN: 9786029934915 | Halaman: 231


PENULIS Fahd Djibran ingin memasukkan karya penulisannya ini dalam genre fiksi-musikal (musical fiction). Pernyataan Fahd ini memudahkan saya sebagai pembaca untuk mendudukkan buku Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM) ini di antara jenis buku lain yang pernah saya baca. Kita tahu Dee sudah melakukannya dalam Rectoverso. Dee mengawinkan musik dan fiksi, yang dua-duanya ditulisnya sendiri. Kita juga tahu duet penulis Agnes Davonar mengawali debutnya justru juga dengan genre ini dengan Misteri Kematian Gaby dan Lagunya Jauh di blog mereka. Tapi tentu genre fiksi musikal paling klasik dan dipuja adalah Le Fantôme de l'Opéra karya Gaston Leroux pada tahun 1910. Karya ini lalu diterjemahkan menjadi The Phantom of The Opera.

Gaston Leroux hidup di pesisir Perancis dan bercita-cita hendak menjadi penulis. Ia menulis puisi, cerpen, dan mempelajari karya Victor Hugo dan Alexandre Dumas. Tapi akhirnya ia menjadi reporter kriminal dan rajin mendatangi ruang sidang, mewawancarai tahanan dan menjadi saksi eksekusi hukuman mati. The Phantom of The Opera kemudian menjadi novel kesekian yang ditulis Gaston Leroux.

Di tangan musisi Andrew Llyod Webber, cerita ini diadaptasi ke proyek musikal dan dipertontonkan di London pada 1986 dan New York pada 1988. Tahun 2006, The Phantom of The Opera muncul di panggung Broadway dan menumbangkan Cats menjadi show terlama dimainakn yang pernah ada dalam sejarah Broadway, paling tidak sudah dipentaskan sebanyak 9.100 kali.

Alih-alih terdistraksi oleh karya Gaston, lebih baik menggunakan karya Dee yang sedikit banyak mirip. Dee menyebut Rectoverso sebagai kumpulan cerita pendek dari sebelas lagu yang diciptakannya, dan kemudian ditutup dengan ajakan untuk mendengar cerita dan membaca lagunya, sedang Fahd mendefinisikan HBDM secara mirip. "Buku ini merupakan fusi-sinergis antara cerita dan lagu. Bacalah kisah-kisah yang terangkum di dalamnya sambil mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black yang bersesuaian dengan setiap kisahnya, lalu rasakan sensasinya." Lagu dan cerita pendek saling berperan sebagai teks sekaligus konteks. Bedanya, Fahd tidak menulis lirik lagu. Lagu-lagu ini telah lebih dulu dilahirkan oleh Bondan Prakoso dan Fade 2 Black.

Karena sifatnya yang complimentary atau saling melengkapi, maka sudah menjadi syarat untuk mendengar dulu lagu-lagu Bondan dan F2B sebelum membaca bukunya. Bila tidak, barangkali pembaca akan lebih dulu bereaksi seperti saya: mengapa Bondan? Bicara soal lirik, musikalitas, gerakan, menurut saya Iwan Fals lebih menarik atau God Bless atau Slank. Tetapi Fahd telah memberi apologia yang terbuka dengan menyatakan bahwa ia langsung jatuh cinta begitu mendengar lagu karya Bondan Prakoso (tentu yang dimaksud bukan lagu Si Lumba-Lumba).

Saya mengimajinasikan kejadiannya seperti ini: Pagi hari. Fahd sedang menyetir di tengah kemacetan Jakarta. Di tengah keluhnya atas situasi porak poranda yang memutarbalikkan kemanusiaan, lamat-lamat ia dengar sebuah lagu enak diputar di radio. Volume ia keraskan dan telinga ia pasang. Tak lama terdengarlah lagu Bondan: "apapun yang terjadi / Ku kan slalu ada untukmu / janganlah kau bersedih/ cause everythings gonna be ok." Fahd terhenyak. Lalu tak ubahnya Andrew Llyod Webber, Fahd kemudian berinisiatif melakukan interpretasi brutal pada lagu "Ya Sudahlah" itu. Ia menikmatinya, lalu terus dilakukannya untuk lagu-lagu lain dan tersajilah pada pembaca buku ini.

Maka memang tak bisa diperdebatkan mengapa yang dipilih adalah Bondan Prakoso dan Fade 2 Black. Tapi ada beberapa hal yang bisa diperdebatkan di dalam buku ini. Semisal mengenai pemuatan lirik lagu. Perlukah dituliskan kembali secara utuh di dalam cerita? Kalaupun dituliskan, dapatkan ia dihadirkan sebagai kesatuan yang utuh? Tidak sekedar tempelan pada cerita, tetapi diletakkan sebagai apa yang diucapkan atau digerakkan oleh karakter. Lalu juga mengenai tata letak. Apakah yang demikian itu cukup nyaman, senyaman saya memandang sampul yang dikerjakan secara istimewa.

Meskipun beberapa cerita dalam fiksi-musikal ini tampaknya kelewat panjang dan terlalu diterang-terangkan, saya pastikan cerita-cerita dalam buku HBDM ini berpotensi kuat karena karakter yang dimunculkan ditulis dengan memikat dan terikat oleh satu tema yang kuat: menghargai mimpi dan usaha kerja keras untuk mewujudkannya.

3/5

Blog EntryJul 8, '11 9:13 AM
for everyone
100 Peristiwa yang Bisa Menimpa Anda
karya Benny Rachmadi

Terbit Mei 2011 oleh Penerbit KPG | Binding: Paperback | ISBN: 9789799103468 | Halaman: 132

SETELAH 15 tahun bersama, Benny Rachmadi kini melangkah sendirian. Mice juga. Mulai bulan Juli 2010, Mice hanya menggambar sendirian di koran Kompas dengan kartunnya yang berjudul Mice Cartoon. Tak ada yang salah, wajar saja. Kadang kolaborasi paling intim sekalipun berpisah. Bisa jadi sementara, bisa jadi selamanya. Albert Uderzo dan Rene Goscinny (duet komikus Asterix) sekalipun, yang sama-sama menuai sukses dari menggambar komik di tahun 1952 bukan tidak pernah mengalami gonjang ganjing. Mereka pernah gonta-ganti pasangan, semisal Goscinny dengan Morris melahirkan komik Lucky Luke. Lalu Uderzo pun bersama Jean-Michel Charlier melahirkan komik realistis Tanguy dan Laverdure. Tetapi pada akhirnya pasangan itu tetap setia sampai meninggalnya Goscinny. Namun Uderzo selalu mencantumkan nama Goscinny di setiap komik yang dibuatnya. Jadi saya tak terlalu resah.


Benny dan Mice saat bersama


Apa yang dihadirkan kumpulan komik ini? Kumpulan ini menggabungkan 100 peristiwa yang bisa menimpa Anda, ditulis dan digambar oleh Benny Rachmadi sendiri. Peristiwa ini terjadi baik di momen khusus, ataupun tanpa momen. Malahan menurut saya, 100 peristiwa biasa sebetulnya. Saking biasanya, siapapun Anda bisa mengalaminya. Tanpa kecuali. Kecuali tentu saja bila Anda hidup dalam rumah kaca/istana mewah. Siapa yang tak pernah mengalami kejadian cabe nyangkut di gigi? Siapa yang tak mengeluh dengan WC berbayar di Jakarta? Siapa yang tak pernah dicolek/digodain bencong? Peristiwa ini tentu banyak dialami oleh masyarakat Jakarta.

Tapi di tangan Benny, peristiwa ini menjadi "luar biasa".Mengapa saya katakan luar biasa? Karena dengan mendokumentasikannya demikian, Benny telah melakukan tugas seorang 'antropolog visual' untuk merekam peristiwa sosial dengan medium komik. Rekaman-rekaman ini divisualkan dengan apik. Kadang perlu beberapa panel, tapi ada yang cukup 1 panel saja dan langsung menohok.




Saya tertarik pada salah satunya. Judulnya: "Kepergok Nonton Film Porno"


Tentu saja, kita mungkin ingat apa pemicu komik ini: Anggota Komisi V DPR RI Arifinto sedang menonton film porno melalui tablet Galaxy Tab miliknya saat rapat paripurna DPR.Nilai sosial dari karya Benny Rachmadi ini tidak turun. Kritik-kritik secara halus diintrinsikkan ke dalam celetukan-celetukan di dalam komiknya. Khas kritikan komik-komiknya terdahulu. Garis-garis gambarnya yang pasti memberikan kesan, kalau 100 peristiwa yang ada ini memang dipilih lewat pertimbangan yang matang. Karena tentu saja, sebenarnya susah menemukan peristiwa biasa yang bisa terjadi pada banyak orang.

Senyum dan ketawa selalu menyertai pembacaan saya pada karya ini. Menyegarkan.

Ayahku (Bukan) Pembohong
karya Tere-Liye

Terbit April 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9789792269055 | Halaman: 304

WAKTU kali pertama draft buku ini dikirim penulisnya, saya tertegun. Sepintas jadi ingat ayah saya sendiri. Sosoknya suka memotivasi. Suka menginspirasi untuk menjadi orang yang tidak mudah putus asa. Selebihnya memang berbeda, tak sepenuhnya sama seperti ayahnya Dam yang suka bercerita tentang El Capiten, meskipun sama-sama menggemari bola. Mungkin sama-sama suka kesebelasan Brasil. Tapi biarpun begitu, kami berdua "berseberangan". Terutama dalam hal pemikiran dan kegiatan politik. Seolah ada garis transparan yang menjadi tembok pemisah kami berdua.

Ayah adalah orang yang tidak pernah setuju saya jadi penulis. Ia juga tidak suka dengan haluan politik saya. "Contohlah angkatan 66!", ujarnya di suatu sore setelah saya selesai berdemo. "Mereka kerjasama dengan tentara untuk menumbangkan Soekarno!" Saya langsung naik pitam. Sekali-kali haram buat saya berjabat tangan dengan tentara. Lalu kami bertengkar panjang.

Sehari sebelum ayah meninggal, saya masih berdemo hari buruh. Saat kami berpisah, usai sudah episode pemikiran dan kegiatan politik saya. Rasanya ada perasaan bersalah demikian panjang pada ayah. Untuk semua pertengkaran di masa lalu. Untuk semua debat politis itu.

Selepas membaca draft cerita yang semula berjudul "Ayahku, Sang Kapten & Apel Emas" ini, saya kembali ingat bahwa sesungguhnya ikatan cinta kita pada ayah adalah sebuah cinta tanpa prasyarat. Kita boleh punya riwayat panjang perselisihan dengan ayah kita. Kita boleh tak bersepakat dengan ayah kita, kita boleh pula tak sama tindakan dengan ayah kita, asalkan kita tidak menafikan adanya cinta yang menyatukan hubungan ayah dan anak.

Tere-Liye apik membangun ceritanya dengan peristiwa Dam dan ayahnya. Dam yang bergelora di saat muda, dengan kegiatan renangnya, dengan kegemarannya pada sepak bola. Dan ayah dengan cerita dongengnya yang ternyata bukan sesumbar belaka.

Ketika kemudian hari, saya menerima buku ini, saya membacanya lagi. Dan lagi-lagi buku ini berhasil mengembalikan kesadaran saya untuk menghargai sosok ayah, betapapun rumit dan tak sederhananya dalam praktik kesehariannya. Tere-liye sungguh-sungguh berhasil menggugah saya sebagai pembaca dan sekaligus seorang anak dari seorang ayah yang sangat saya banggakan.

Kesamaan gaya penceritaan buku ini yang saya singgung ke penulis dengan novel The Big Fish karya Daniel Wallace tidak lagi penting, karena buku ini menemukan maknanya tersendiri bagi saya sebagai pembaca.

4/5

Blog EntryJun 8, '11 1:53 AM
for everyone
30 Hari Jadi Murid Anakku
karya Mel

Terbit Mei 2009 oleh Akoer | Binding: Paperback | ISBN: 9791038163 (ISBN13: 9789791038164) | Halaman: 224

TIDAK semua orang bisa sampai tahap hidup menjadi orang tua. Apalagi menjadi kakek/nenek. Tapi semua orang pasti melalui tahap menjadi anak. Apakah artinya menjadi anak itu?

Kahlil Gibran menggambarkan hubungan anak dan orang tua demikian dalam puisinya "Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu":

Mereka adalah anak-anak yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan dirimu
Meski mereka bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cinta tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok
yang tidak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka

Tapi…
Jangan coba jadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu
Menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian
Ia menggerakanmu dengan kekuatannya
sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur tepat dan jauh

Jadikan tarikan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang,
maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya
dengan sepenuh kekuatan


Kearifan demikian, dengan menyatakan Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu / menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan seperti diputarbalikkan oleh Mel dalam bukunya ini. Tidak tepat sebetulnya memasukkan buku ini ke dalam buku parenting, karena justru orang tua yang harus banyak belajar kehidupan ini justru dari anak. Memahami kepolosan dan kemurnian mereka dalam memandang dunia ini, belajar untuk jujur, adil, dan mencintai tanpa prasangka.

Mel membalikkan logika bahwa anak itu ibarat kertas putih yang masih polos yang perlu orang tua tulisi. Karena dalam renungan-renungan khasnya yang pendek -- namun bertuah, ia justru merasa jangan-jangan orang tua justru mengotori kertas putih yang polos itu dengan hal-hal yang tak perlu.

Saya sepakat, bahkan cenderung sangat sepakat dengan pengantar dari Eep Saefulloh Fatah betapa anak di zaman sekarang ini sudah menjadi korban ketidakadilan. Korban dari ambisi orang tua. Korban dari kurikulum sekolah yang memasung kreativitasnya. Korban dari sistem yang busuk, korup, sehingga mereka tidak tumbuh dengan semestinya.

Benar bila Kafi Kurnia mengatakan isi buku ini ibarat harta karun. Betapa tidak, sebagai orang tua kita jarang mau belajar, cenderung merasa benar, dan melupakan bahwa anak bisa menjadi guru kehidupan yang sejati.

Maka benar, "anak-anak adalah empunya kerajaan surga".

3/5

Blog EntryMay 30, '11 9:06 AM
for everyone
Ojekers
karya Nezaretta

Terbit 2008 oleh Gagas Media | Binding: Paperback | ISBN: 9797802515 | Halaman: 202

MEMBACA cerita ringan seperti ini kadang-kadang membuat saya sebal. Sebal membacanya karena sepertinya si penulis tak punya empati pada kehidupan sosial. Tuduhan serius ini terpaksa saya layangkan juga, gara-gara dalam penokohan Endang Pelung nampak betul upaya 'membodohkan' dirinya. Apalagi dipakai bahan pembanding adalah Izhar, yang memang jauh lebih beruntung. Bukan saja pendidikan, tetapi juga penghasilan, dan secara kurang ajar digambarkan penulis, diposisikan sebagai "orang pintar" yang pandai memberi nasihat, solusi, dan sebagainya.

Tipologi penokohan/karakter ini bagi saya terdengar sangat dua dimensional. Serba hitam dan putih. Tidak mencerdaskan. Barangkali si penulis dan teman-temannya akan bilang "namanya juga teen-lit..." sebagai justifikasi/pembenaran atas pilihan eksekusi cerita, tetapi saya juga bisa berkelit dengan menajamkan pertanyaan "memangnya kalau teen-lit boleh memasang karakter-karakter yang tak bernyawa begitu saja?" Menurut saya tidak, paling tidak seingat saya, ada teen-lit yang tidak ditulis secara demikian. Seberapa ringannya sebuah cerita dan misi yang diembannya --justru misi menghibur menurut saya adalah misi yang sangat teramat serius-- penokohan/karakter tidak boleh dibuat secara sambil lalu.

Sambil lalu karena semata-mata ia seorang tukang ojek, maka ia dikarakterkan oleh penulis disebabkan karena ia bodoh. Semata karena ia tukang ojek, maka istrinya begitu jelek sejelek-jeleknya orang jelek. Semata karena ia tukang ojek, maka ia tidak pernah naik mobil sedan Honda Stream. Semata karena ia tukang ojek, maka ia bisa percaya setengah mati pada omongan dukun. Barangkali saya yang salah, tetapi di lingkungan saya, nyaris yang menjadi tukang ojek itu paling tidak sudah mengenyam pendidikan sekolah menengah, atau bahkan diploma. Angka pengangguran terbuka yang demikian tinggi (Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2010 tercatat menurun 0,73 persen menjadi 7,41 persen dibanding dengan Februari 2009 yang sebesar 8,14 persen), serta tekanan ekonomi yang mendorong mereka menjadi tukang ojek. Istilah mereka: ngojek aja yuk, daripada jadi pengangguran. kan malah berpahala. Iya, benar berpahala. Karena dalam pandangan mereka, mengantarkan orang yang kesusahan sampai ke tujuan ada pahalanya. Maka menurut saya, pekerjaan tukang ojek itu tidak bisa dipandang sepele.


Sebal juga membacanya karena pembabakan dalam cerita ini sungguh tidak rapi. Konteks waktu seringkali dilupakan dan koherensi antar bab tidak terjaga. Semisal, saya tidak bisa menemukan sebab mengapa Endang Pelung sekeluarga kesurupan. Baru ternyata di pertengahan bab selanjutnya dijelaskan lewat karakter Izhar bahwa itu "trik" Endang untuk membantu memenangkan calon kades dalam pilkades. Belum lagi, morat-maritnya plot waktu saat Endang dan calon kades pergi ke Jakarta.

Lebih sebal lagi karena saya tidak kunjung terhibur oleh bacaan ringan yang harusnya gampang mengundang tawa dan senyum ini. Leluconnya garing.

Satu-satunya yang sangat saya hargai dari buku ini adalah tambahan kosa kata Sunda sehari-hari plus terjemahannya yang dicantumkan sebagai catatan kaki buku ini. Jadi saya berani memberi poin tambahan bagi cerita ringan ini.

2/5

Blog EntryMay 30, '11 8:30 AM
for everyone
Balada Becak
Karya Y.B. Mangunwijaya

Terbit 1985 oleh Balai Pustaka | Binding: Paperback | Halaman: 64

PERTANYAAN ini yang seingatku bergayut saat menimang-nimang untuk mulai membaca novel ini: "Tahu apa seorang romo/pastur soal cinta? Apa bisa ia menulisnya menjadi sesuatu yang menarik?"

Bagi siswa menengah atas di zamanku, Romo Y.B. Mangunwijaya ini terlanjur dicap "mblalelo" oleh Soeharto, presiden Orde Baru gara-gara ia nekat demo membela masyarakat Kedungombo tahun 1987 (sebetulnya ia sudah mendampingi sejak tahun 1986). Romo ini juga nekat "melawan" bukan dengan bersembunyi di dalam gereja, tetapi langsung turun ke lapangan. Sesuatu langkah yang tak lazim. Sekonyong-konyong orang kemudian mengaitkan dengan Teologi Pembebasan.

Adalah konteks sosial yang terjadi di Amerika Latin saat itu yang kental dengan penindasan, pemiskinan, keterbelakangan, dan penafian harkat manusia -- dianggap tak ubahnya dengan kondisi di Indonesia. Dalam konteks itu, refleksi bersama terjadi dalam perenungan-perenungan keagamaan. Mereka mempertanyakan tanggung jawab agama itu seperti apa? Apa yang harus dilakukan agama dalam konteks pemiskinan struktural seperti itu? Barangkali oleh karena Romo Mangun seorang imam dan ia berada di garda depan "pembangkangan" atas proses penindasan, pemiskinan, keterbelakangan itu serta-merta orang mengait-ngaitkan dengan Teologi Pembebasan. Yang pasti, aku penasaran betul ingin tahu isi pikirannya.

Maka begitu menimang novel cinta ini, aku cuma bisa bertanya-tanya: apa kaitan perjuangan dan pemikiran progresif Romo Mangun dengan soal cinta? Kapan terakhir kali ia memikirkan cinta, sedang kami yang di asrama saja seperti diminta "vakuum" memikirkan cinta di usia kami yang begitu labil dan deru-deru asmara mungkin sedang menggebu-gebu di dalam hati kami.

Pembacaan pun dimulai. Pertama, aku geli dengan teknik penulisan Romo Mangun ini. Ia gemar mengaksarakan bunyi. Semisal bunyi tarikan nafas Yus saat menggenjot becak yang berat ditumpangi Bu Dullah yang gemuk -- itu gambar di sampul buku ini -- sementara Riri mendompleng di belakang, ia aksarakan begini: hosh-hosh-his-ngik-kreyeet-kreyeeet-hosh-hosh. Dalam bahasa, pengaksaraan bunyi ini disebut onomatopoeic atau menirukan suara alam. Romo Mangun juga gemar menyisipkan anak kalimat yang selalu ia awali dengan "--". Teknik-teknik penulisan yang khas ini menjadi pemikat bagiku.

Kedua, cerita cinta dalam balutan melodi antara Yus dan Riri ternyata tidak linier. Riri, anak Bu Dullah penjual gori, rupanya naksir Yus. Tapi Yus naksir mahasiswi, tapi cuma cinta dalam hati. Bolehlah dikatakan balada karena pada akhirnya cinta-cinta ini bertepuk sebelah tangan. Boleh juga dibilang novel cinta, meski tak ada cinta-cintaan sama sekali di dalamnya (coba bandingkan dengan novel Motinggo Busye misalnya).

Sehingga saat tuntas membaca buku ini, pertanyaan-pertanyaan: "tahu apa seorang romo/pastur soal cinta? Apa bisa ia menulisnya menjadi sesuatu yang menarik?" tampak seperti sesuatu yang mandul. Karena definisi cinta itu luas. Cinta pun bisa antar umat manusia. Toleransi. Mencintai perbedaan. Memahami keunikan setiap orang. Justru romo ini tahu banyak arti cinta. Dan pandai menuliskannya secara menarik. Meskipun boleh dikatakan bukan karya terbaiknya, tetapi novel ini menjadi "pembuka" untukku mau membaca karya-karya lain, termasuk karya-karya pemikirannya dalam esai dan buku non-fiksi lainnya

4/5

Blog EntryMay 18, '11 2:14 AM
for everyone
Mohammad Ali: The Greatest
karya Comic Tribe

Terbit 2008 oleh PT Elex Media Komputindo | Binding: Paperback | ISBN: 9789792734287 | Halaman: 64

KALAU ketemu Mohammad Ali di jalan, jangan sekali-kali kau memanggilnya dengan Cassius Clay. Jangan. Itu saran saya. Patuhi saja, kecuali kalau hidung Anda mau mencium kerasnya aspal dan sejenak kemudian, dokter menyatakan sebaiknya segera operasi plastik agar wajah Anda tidak lagi dikenali oleh petinju yang satu itu. Dan maaf, Anda bukan orang pertama yang dijadikan sansak begitu.

Senin, 6 Februari 1967 di Astrodome, Houston Texas. Ernie Terrel vs. Mohammad Ali. Ernie Terrel, penyandang gelar WBA, dengan tinggi nyaris 2 meter (1,98 meter). Dengan sengaja Terrel memanggil nama Ali dengan Cassius Clay. Akibatnya, Ali menghajar Terrel habis-habisan tanpa jeda dengan terus mengulang-ngulang pertanyaan, "Siapa namaku? Siapa namaku, Uncle Tom? Siapa namaku?"



Muhammad Ali. Ia lebih besar dari apa yang tercantum di komik seri tokoh populer ini. Muhammad Ali adalah sebuah icon. Bukan saja bagi kaum Afro-Amerika, tetapi lebih lagi bagi negara-negara Selatan. Ia adalah tokoh oposan sejati. Ia berdiri di titik yang berseberangan dengan mayoritas masyarakat Amerika: mualaf, anti perang Vietnam, anti kolonialisme, anti kemiskinan, anti rasisme. Perangnya adalah perang pemikiran. Mediumnya selalu sama: ring tinju. Tetapi Ali mengatakan itu hanyalah awal. Karena sejatinya, pertarungan yang Ali menangkan adalah kehidupan yang kini kita nikmati ini.

2/5

Blog EntryMay 17, '11 10:48 PM
for everyone
Riwayat Semarang
Karya Liem Thian Joe

Terbit 2004 oleh Penerbit Hasta Wahana | Binding: Hardcover | Halaman: 319 | ISBN: -
Cetak ulang dari terbitan Boekhandel Ho Kim Joe, tahun 1931.

APA pentingnya sebuah catatan peristiwa? Seandainya Liem Thian Joe masih hidup, ia mungkin akan mengatakan titik persoalannya bukan penting atau tidak pentingnya catatan peristiwa, tetapi kebenaran yang dapat dipetik di kemudian hari. Penyusun buku ini yang pada tahun 1933 masih aktif sebagai wartawan/juru berita menilai ceceran catatan penting yang ada di bekas gedung Kongkoan (Chineesche Raad) sayang bila tidak diteruskan ke pembaca dan hancur dimakan rayap.

Kongkoan (Chineesche Raad) sendiri adalah lembaga formal bentukan pemerintah Hindia-Belanda untuk mengatur masyarakat Hokkian. Kongkoan berdiri pada tahun 1885 dan ditutup pada tahun 7 Februari 1931. Apa yang tersimpan di catatan peristiwa Kongkoan itu?

1. Catatan Kedatangan Orang Hokkian Pertama di Semarang

Menurut catatan yang tersimpan di Kongkoan, leluhur orang Hokkian pertama kali mendarat di Bantam, kemudian baru berpencar ke daerah lain, seperti Jepara, Lasem, Rembang, Demak, Tanjung, Buyaran, dan akhirnya sampai di Semarang.

Orang pertama yang mendarat di Semarang adalah Sam Poo Tay Djin. Hal ini dibuktikan dengan catatan dalam arsip Kongkoan Semarang:

Dulu, pada masa Kaisar Soan Tik bertahta di Tiongkok, ada seorang thay-kam (sida-sida) bernama Ong Sam Poo. Sekarang dia lebih dikenal dengan sebutan Sam Poo Kong. Dia mendapat perintah dari Kaisar untuk mencari mustika, maka bersama The Hoo dan lainnya mereka lalu berlayar ke arah Utara.

Ia pertama-tama mendarat di Jambi, lalu turun di Bantam, kemudian di Semarang. Di sampaing goa Sam Poo, terdapat sebuah kuburan yang menurut penuturan orang pada zaman dulu, itu adalah kuburan jurumudi Sam Po Tay Djin.


Sam Po Tay Djin tak lain dan tak bukan adalah Laksamana Cheng Ho. Meski tak banyak disebut tentang identitas kemuslimannya, namun arsip ini kemudian menceritakan bagaimana orang Hokkian yang tinggal di Semarang kemudian mengenang dirinya dan bahkan kemudian mendirikan kelenteng baginya, meskipun itu jelas-jelas tidak sinkron dengan kepercayaan yang dipeluk Cheng Ho.



2. Nasib Hoakiauw (Perantau Hokkian) dari zaman ke zaman

Siapa bilang nasib Hoakiauw itu enak? Catatan yang terdapat di Kongkoan mencatat tidak semua bisa menikmati hidup nyaman. Para perantau yang datang dari China daratan malah tidak punya apa-apa ketika mendarat di Jawa. Hidupnya tergantung pada "sanak-saudara" sekampung yang kemudian memberi modal sedikit hanya untuk bertahan hidup. Mereka sendiri yang harus berjuang agar bisa survive di negeri rantau.

VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda memberlakukan aturan yang luar biasa ketat bagi para hoakiauw ini. Mereka dikenakan wijkmeesterstelsel yakni aturan tempat tinggal yang mengharuskan mereka tinggal di daerah khusus yang kemudian disebut Pecinan. Juga mereka dikenakan passenstelsel yakni aturan yang mengharuskan mereka mengurus izin perjalanan bila ingin jualan ke daerah lain. Aturan-aturan yang demikian ketat itu sangat memberatkan para hoakiauw. Sebagai pelaksana dan pengawas aturan-aturan ini, VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda memberi tugas kepada para Kapiten, Mayoor dan Lieutenant dari kalangan mereka sendiri. Kepangkatan ini bukan kepangkatan militer, tetapi kepangkatan administratif.



Salah satu pemberlakuan yang ketat dilakukan VOC pada periode 1740 di seluruh wilayah Hindia-Belanda. Di Batavia, pada November 1740 sebanyak 10.000 hoakiauw dieksekusi hingga mati untuk mengurangi jumlah penduduk di Batavia. Derasnya pendatang membuat VOC kewalahan mengatur makanan dan pekerjaan bagi seluruh penduduk di Batavia. Pembantaian itu kemudian berimbas pada para hoakiauw di kota lain, seperti yang tinggal di Semarang. Mereka lekas-lekas membangun gerbang keamanan di empat sudut pintu masuk ke Pecinan. Lalu semua laki-laki mendapat tugas jaga di gerbang keamanan ini secara bergantian.

Pendapatan para hoakiauw termasuk para pembesarnya lama-lama dipangkas oleh VOC/pemerintah Hindia-Belanda. Pajak garam dilarang. Pajak madat juga dihapus. Akhirnya ambruk juga pijakan ekonomi para hoakiauw ini.

Zaman malaise dan kelaparan hebat di Jawa pada awal abad XX juga berimbas pada para hoakiauw. Mereka yang memiliki gudang beras dan gula akhirnya dipaksa untuk menjual beras dan gulanya untuk mengatasi kelaparan.

3. Nasionalisme China dan Pendidikan Hoakiauw serta dampaknya bagi seluruh negeri

Meski jauh dari tanah air, tetapi ikatan cinta tanah air membuat para hoakiauw tidak merasa jauh dari negerinya. Apalagi selepas China menjadi republik, perhatian pada para perantau sangat besar hingga pemerintah China mengirim utusan untuk mengunjungi para perantau yang tinggal di Semarang dan kota-kota besar lain di negeri ini.

Mulailah sejak saat itu, para hoakiauw merasa perlu membekali bangsanya dengan pendidikan. Akhirnya didirikan Tiong Hoa Hwee Koan atau Rumah Perkumpulan Tionghoa, yakni sebuah organisasi yang didirikan tanggal 17 Maret 1900. Tujuan pendirian THHK ini adalah mengenalkan kembali para hoakiauw ini dengan identitasnya dan pendidikan, termasuk di dalamnya mendirikan perpustakaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan. Catatan sejarah kemudian mencatat THHK ini akhirnya ditutup oleh Soeharto pada tahun 1966/1967.



Juga pada kisaran waktu yang sama, para laki-laki Hoakiauw memotong kuncir rambutnya. Orang pertama yang meminta adalah Oet Tiong Ham dengan mengajukan surat rekest kepada Gouverneur Generaal supaya ia diperkenankan memotong kuncir dan memakai pakaian Eropa di tempat umum.



Oei Thiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula dan merupakan konglomerat pertama di Asia. Ia mengajukan usulan itu karena merasa kuncir/tauwcang itu merupakan keharusan dari Dinasti Qing (Manchu) yang tidak perlu lagi diikuti. Tepatnya potongan rambut ini seperti ini: batok kepala dibagi 2, depan dan belakang. 1/2 bagian depan kepala dibotakkan sedangkan rambut di 1/2 bagian belakang kepala dibiarkan panjang dan dikuncir (diikat).

Surat itu diajukan bulan November 1889 dan segera diikuti oleh banyak laki-laki Hoakiauw dengan mengajukan surat serupa. Gelombang ini juga diikuti oleh para perempuan yang mengajukan permintaan berpakaian bebas, tidak lagi memakai kebaya encim.

Gerakan-gerakan emansipasi ini memiliki dampak juga bagi seluruh negeri. Kalangan pergerakan pribumi mengikuti langkah memasuki dunia pendidikan dan mulai memperjuangkan nasib mereka sendiri.

Sungguhpun data-data yang terdapat dalam buku ini sangat centang-perentang dan tidak tersusun secara rapi, namun sebagai pembaca gambaran-gambaran peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu hingga 1933 cukup memberi pemetaan bagaimana kehidupan para Hoakiauw di Semarang. Barangkali penamaan kronik jauh lebih tepat daripada riwayat, karena sesungguhnya tidak terlalu banyak riwayat kronologis yang dipaparkan di buku ini. Bahkan sebagai pembaca, sangat sulit membedakan mana yang bersumber pada arsip Kongkonan dan potongan berita dari koran/majalah yang dikutip Liem Thian Joe karena tidak ada cantuman keterangan yang memadai darinya, semisal dengan catatan kaki.

3/5

Blog EntryApr 7, '11 11:07 PM
for everyone
The Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English Dictionary
Karya Simon Winchester

Terbit 2006 oleh Penerbit Serambi | Binding: Paperback | ISBN: 9791112533 | Halaman: 342

Original title:
The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary
Penerjemah: Bern Hidayat


PEPATAH lama berbunyi "Bahasa menunjukkan bangsa". Apa artinya pepatah itu? Pertama ia bisa diartikan demikian. Tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka. Kalau tabiatnya penuh kasih, maka ia akan berbicara dengan penuh kelembutan. Terlepas benar tidaknya, tapi zaman sekarang tidak menentukan juga. Kedua, pepatah ini dapat diartikan demikian bahwa kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya. Ini pun bisa dengan mudah diperdebatkan sampai sejauhmana kebenarannya. Lalu ketiga, pepatah ini berarti bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut. Nah, sampai di sini, izinkan saya terhenyak sebentar.

Alif Danya Munsyi, atau dikenal dengan nama lain Remy Sylado, atau dengan nama aslinya Yapi Panda Abdiel Tambayong atau disingkat Yopie Tambayong, barangkali adalah seorang filolog yang sampai hari ini masih saya ikuti kiprahnya. Ia rajin menulis esai-esai tentang bahasa Indonesia, lalu kemudian ia kumpulkan dan diberi judul seperti pepatah lama tadi: Bahasa Menunjukkan Bangsa, terbit tahun 2005. Yang hendak ia sampaikan lewat bukunya adalah bahwa bahasa Indonesia juga menunjukkan pukau sebuah bangsa yang besar dengan kosa-kata yang kaya. Ia menyayangkan bahwa akhirnya bahasa Indonesia dikhianati oleh bangsanya sendiri yang tadinya sudah bersumpah untuk bukan saja berbangsa dan bertanah air satu, tetapi juga berbahasa satu, tetapi pada prakteknya kita ber-dwi bahasa. Bahasa Inggris menjadi begitu penting dibandingkan bahasa sendiri. Mampirlah ke sekolah-sekolah dasar sekarang yang begitu bangga memasang di plakat sekolahnya, SD .... Bilingual! Tunggu, tunggu, saya bukan seorang chauvinis yang hanya bangga akan bahasa sendiri! Tetapi saya akan lebih bangga kalau kita bisa menguasai lebih banyak bahasa, namun yang terutama bahasa Inggris. Yang begitu miris adalah dalam prakteknya, penggunaan bahasa Inggris di sini pun cukup mengundang rasa prihatin.

Mari saya contohkan. Baru-baru ini ada sebuah kampanye yang sedang dilancarkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Demikian stiker besarnya di belakang bus (ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris):


"Busway. Take the Bus No It's Way" Sejurus saja saat saya membaca ini, membuat saya gatal ingin berkata: "Ya sudah kalau tidak bisa bahasa Inggris, gunakanlah bahasa Indonesia!" Tetapi anjuran itu pun saya pikir masih keliru. Saat membaca versi bahasa Indonesia-nya, ternyata ada kekeliruan juga dalam menggunakan kata "busway". Betul, yang benar adalah Bus Transjakarta, bukan "busway". Tapi tengoklah rambu-rambu jalan, di sana marak ditulis "Hati-hati Busway". Apakah ini kesengajaan atau kelalaian?


Rambu di atas adalah "palsu." :) Tetapi mengandung semangat ejekan pada gaya bertutur bahasa Inggris yang berlebihan seperti yang biasa dilafalkan oleh artis Cinta Laura.

Kembali lagi soal "busway". Akankah "busway" ini akan dimasukkan dalam lema baru di Oxford English Dictionary (OED) Edisi Ketiga yang dijadwalkan akan selesai tahun 2037? Saya pikir tidak mungkin! Namun yang dapat dipastikan, per bulan Maret 2011, singkatan yang marak digunakan di internet seperti LOL, OMG, dan IMHO dipastikan masuk dalam bahasa Inggris yang baku. OED menjelaskan bahwa OMG (Oh My God), LOL (Laughing Out Loud) dan IMHO (In My Humble/Honest Opinion) marak digunakan dalam bahasa internet, tetapi dari segi sejarah singkatan kata ini sudah hadir jauh sebelum era Internet. Seperti misalnya OMG, OED menemukan bukti penggunaan singkatan kata ini dalam sebuah surat pribadi yang ditulis tahun 1917, dan FYI (For Your Information) ternyata berasal dari bahasa memo pada tahun 1941. Ketiganya sudah pasti masuk ke dalam OED Edisi Ketiga.

Pertanyaan berikutnya: apakah pepatah "bahasa menunjukkan bangsa" ini masih kontekstual? Jawaban saya, justru sekarang ini adalah waktu sangat tepat untuk memperbincangkan bahasa dan bangsa ini. Delapan puluh tiga tahun (1928-2011) kita terikat oleh "sumpah" para pemuda di Kongres Pemuda II untuk berbahasa Indonesia. Tentulah menarik untuk menilai selama kurun 80-an tahun ini, sejauh mana perkembangan bahasa ini? Dan sejauh mana, bangsa ini menghargai bahasanya sendiri?

Saya pikir salah satu ukuran yang menarik adalah melihat perkembangan kamus kita. Sewaktu saya masih di sekolah menengah dulu, teramat sering dicantumkan definisi tentang segala sesuatu yang dikutip dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), 1988. Hampir di semua paper Sidang Akademi selalu diawali dengan kutipan definisi ini. Pada waktu itu, fisik KUBI memuat 62.100 lema. Itupun sudah tampak luar biasa, karena sangat membantu tugas-tugas yang diberikan guru bahasa Indonesia untuk mencari definisi kata yang sering tercantum di surat kabar. Dalam perkembangannya, pada tahun 1991, terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua dengan penambahan 5.900 lema sehingga total lema pada edisi kedua menjadi 68.000. Perhatikan beda penamaannya dari "umum" menjadi "besar". Kedua kamus inilah yang sering saya gunakan semasa sekolah menengah.

Edisi ketiga punya kenangan lebih dalam. Waktu saya sakit, karena semua buku sudah saya baca, yang tertinggal hanya tinggal KBBI 2001. Maka jadilah lema sebanyak 78.000 itu dibaca sebagai pengisi waktu. Waktu itu saya amat terpukau pada penjelasan KBBI tentang "perang". Silakan buka taut ini untuk mencari tahu: http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/

Secara luar biasa, tentang "perang" ditulis demikian panjang dengan penjelasan 33 cara pemakaian, mulai dari kata "perang asabat" hingga "perang urat syaraf" yang sama-sama berarti perang saraf. Darimana mereka mendapatkannya? Saya tidak dapat menerka bagaimana Pusat Bahasa bekerja mencarinya, tetapi saya merasa salut dan bangga.

Ketika tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 2008, terbit edisi KBBI keempat. Saya ingat berkali-kali saya ingin memiliki KBBI yang berisi 90.000 lema ini, tetapi selalu urung hingga hari ini. Mengapa bagi saya penting memiliki KBBI ini, karena kamus ini adalah "acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku". Bahkan mungkin yang terlengkap dan yang paling akurat yang pernah diterbitkan. Begitu pikir saya. Sebagaimana juga tercatat pada penjelasan Pusat Bahasa tentang kamus ini.

Tapi kebanggaan ini langsung luluh berantakan saat saya membaca buku ini. Buku ini berkisah tentang upaya meneliti mitos terbesar sastra modern Inggris, tepatnya mitos seputar penyusunan OED untuk menjawab pertanyaan utama: benarkah James Murray, editor utama OED, baru bertemu William Chester Minor, kontributor paling aktif dalam OED, setelah 20 tahun korespondensi dan baru pada saat itu sang profesor disadarkan bahwa kontributornya itu adalah seorang pasien Rumah Sakit Jiwa? Simon Winchester mengajukan argumen bahwa semua itu tidak benar.

Sebagai bungkusnya, Simon Winchester menceritakannya dengan detil bak detektif, mencari latar belakang siapa tokoh-tokoh tersebut dan menemukan fakta bahwa William Chester Minor adalah dokter tentara yang kemudian menjadi skizofrenia gara-gara perang dan dalam paranoia yang berlebihan ia menembak George Merret. Dan James Murray sebetulnya tidak pernah mengenyam bangku kuliah dan mengajarkan bahasa Latin pada sapi-sapi semasa mudanya.


James Murray duduk tersenyum dengan toga di Scriptorium. Di belakangnya tampak bundelan kertas yang tadinya disusun dalam kotak-kotak penyimpanan (di buku ini dengan alasan yang tak jelas diterjemahkan menjadi "sarang tawon") dan sejumlah editor yang bekerja di bawah arahan James Murray. Kursi James Murray masih tampak lebih tinggi dibandingkan editor lain, untuk menunjukkan otoritasnya.

Bungkus lain yang juga diceritakan secara luar biasa adalah kisah penciptaan kamus besar (yang ini saya setuju disebut besar) Oxford English Dictionary. Mengapa saya setuju disebut "besar" karena paling tidak kalau OED ini dikerjakan oleh satu orang akan dibutuhkan waktu 120 tahun untuk memasukkan istilah-istilah ini hingga terkumpul 59 juta kata (OED Edisi Kedua), 60 tahun untuk memeriksa kata demi kata (proofedit) dan kapasitas 540 megabyte untuk menyimpannya.

Harus saya akui, ini hal yang sangat luar biasa bagi saya. Saya besar dengan membaca kamus Grolier International Dictionary, Merriam-Webster Dictionary, yang beratnya sudah berkali-kali membuat repot, tetapi saya sama sekali belum pernah melihat OED. Membayangkan kemasifannya yang tercantum dalam buku ini membuat saya menganga. Ini sungguh sebuah monumen kejayaan bahasa Inggris. Sepadan dengan kebesaran bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. Proyek kaum chauvinis yang boleh digadang-gadang sepanjang masa.

Simak prakata yang ditulis secara jelas ini:
The aim of this Dictionary is to present in alphabetical series the words that have formed the English vocabulary from the time of the earliest records [ca. AD740] down to the present day, with all the relevant facts concerning their form, sense-history, pronunciation, and etymology. It embraces not only the standard language of literature and conversation, whether current at the moment, or obsolete, or archaic, but also the main technical vocabulary, and a large measure of dialectal usage and slang.

Lalu dilanjutkan:
Hence we exclude all words that had become obsolete by 1150 [the end of the Old English era]  ... Dialectal words and forms which occur since 1500 are not admitted, except when they continue the history of the word or sense once in general use, illustrate the history of a word, or have themselves a certain literary currency.

Kajian historis pada kata, bahkan sampai menyasar pada istilah, itu adalah hal-hal yang tidak terdapat pada KBBI kita. Tapi tentu saja, ini adalah sebuah upaya bodoh untuk memperbandingkan langsung KBBI dan OED. Tentu orang dengan mudah berkata, jelas saja karena umur bahasa Indonesia lebih muda, lebih banyak serapan, tidak jelas mana yang benar-benar asli (ini aneh mengingat sejarah bahasa kita adalah sejarah bahasa politik), bahkan si Alif Danya Munsyi sendiri ('munsyi' di sini berarti ahli bahasa) berujar sinis bahwa 9 dari 10 kata Indonesia adalah asing. Tetapi tidak ada upaya seserius macam The Philological Society yang digawangi James Murray untuk merekrut filolog-filolog yang ada untuk masuk ke dalam Pusat Bahasa.

Inilah sebab-sebab yang menurut saya menyebabkan saya menjadi sedikit sedih saat membaca lagi pepatah "bahasa menunjukkan bangsa". Barangkali kita sebagai bangsa kurang berusaha untuk menghargai bahasa sendiri, sedikit chauvinis juga tak mengapa, asalkan kita betul-betul serius mengembangkan bahasa sendiri, daripada berusaha menggunakan dwibahasa tetapi malah amburadul seperti kasus "busway" tadi.

3/5

Blog EntryApr 1, '11 4:05 AM
for everyone
Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883
Karya Simon Winchester

Terbit April 2006 oleh Penerbit Serambi | Binding: Paperback | ISBN: 979160097x | Halaman: 509

Original title: Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883
Penerjemah: Bern Hidayat


KRAKATAU -- sebuah nama yang selama ratusan tahun telah tertanam di kesadaran kolektif seluruh dunia, bagian dari leksikon dunia. Akrab tetapi sekaligus samar-samar. Itu yang menjadikannya eksotik. Bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini, Krakatau bagai sebuah artefak. Sama halnya seperti Tambora. Kita hanya mengenalinya dari daftar 10 Letusan Gunung Terdahsyat di Dunia. Sebelumnya tidak ada sebuah kekhususan untuk mengenangnya, kecuali bila negeri ini dilanda kembali bencana. Seperti letusan Merapi 1 November 2010 lalu. Atau semakin gawatnya status sejumlah gunung belakangan ini sampai-sampai pemerintah pada 7 Maret 2011 lalu memutuskan untuk mencermati aktivitas tiga gunung berapi yakni Gunung Tambora, Anak Krakatau, dan Pusuk Buhit di Toba untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi mengingat ketiga gunung itu masih berstatus aktif. Di luar itu, siapa yang ingat kejadian pada hari Senin, 27 Agustus 1883 jam 10.02 pagi? Bahwa setelah 20 jam 56 menit kejang-kejang, Krakatau meletus.

"Kami dengan jelas mendengar, gelegar sebuah gempa bumi di kejauhan," demikian salah satu saksi mata berkata. Bukan hanya mereka yang hidup di dekat gunung itu yang mendengar, tetapi suara itu terdengar hingga 2.986 mil jauhnya. Berapakah jauhnya 2.986 mil itu ngomong-ngomong?

Seorang penulis sains populer Eugene Murray Aaaron menjelaskan mengapa angka 2.986 mil itu seharusnya membuat mereka semua tercengang:

Andaikata ada orang yang bertemu dnegan seorang penduduk Philadelphia dan mengatakan bahwa ia mendengar sebuah ledakan di Trento, New Jersey, yang 30 mil jauhnya dari sana, ia mungkin dipercaya, sekalipun ada sedikit keraguan mengenai daya imajinasinya. Tetapi andaikata ia menyampaikan pernyataan yang sama tentang ledakan tadi di Wheeling, West Virginia, yang 300 mil jauhnya, semua keraguan mengenai akurasinya akan lenyap. Tetapi andaikata ia dengan penuh semangat menegaskan mendengar sebuah ledakan di San Fransisco, 3.000 mil jauhnya dari sana, ia akan disambut dengan senyuman belas kasihan, dan pendengarnya akan diam-diam menjauh. (hal. 328)

Namun buku ini ditulis bukan atas nama mengenang letusan ini saja dengan segala pukaunya. Lewat buku ini, Simon Winchester berhasil menempatkan letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 dalam konteks global. Selepas membaca buku ini, pembaca akan mendapat kesan bahwa letusan Krakatau bukan sekedar muntahan material dari badan gunung itu, bukan pula sebuah peristiwa alam yang dikategorikan bencana karena membunuh 36.000 pribumi dan 37 ekspatriat lewat gempa dan tsunami setinggi 40 meter, tetapi saling terkait dengan banyak hal di dunia ini: pergeseran lempeng tektonik, lesatan komunikasi informasi dari telegraf, pergolakan Islam, dan lainnya. Sebuah konteks global yang merefleksikan eratnya alam dan manusia, serta sebuah pembuktian ilmiah bahwa ketidakseimbangan yang terjadi pada alam akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung pada manusia. Inilah yang membuat buku ini saya pikir penting untuk dibaca. Bukan saja dalam konteks perencanaan mitigasi bencana, tetapi dalam konteks yang lebih besar yakni mempersiapkan perubahan-perubahan sosial yang akan terjadi karena Indonesia berada di jalur "cincin api" (ring of fire) Pasifik.

Ambil contoh terhadap tsunami Aceh dan letusan gunung Merapi yang terjadi kemarin. Perubahan-perubahan sosial sekarang berangsur-angsur terjadi di kedua daerah itu, terutama karena gempa di banyak tempat itu pada akhirnya mengakibatkan "gempa-gempa" lain dalam konteks sosial-politik misalnya yang dicerminkan lewat menurunnya tingkat kepercayaan pemerintah (dalam menangani bencana khususnya, tetapi kemudian meluas), juga terjadi pada konteks moralitas yang terkait dengan semakin maraknya aksi filantropi, keimanan, dan lainnya.

Kembali lagi ke Krakatau. Bahwa selepas meletusnya, Royal Society di Inggris menugaskan sebuah komite keilmuan bernama Komite Krakatoa untuk menyelidiki dampak-dampak yang ditimbulkan oleh letusan Krakatau. Komite ini dengan teliti mengumpulkan catatan-catatan tsunami yang tersebar ke seluruh dunia, seperti yang tercatat di bandar Panama di Ceylon (Srilanka). Di tahun yang sama, terbit laporan paling komprehensif tentang letusan Krakatau yang hingga hari ini dijadikan sumber referensi utama.

Harus disadari bahwa buku ini terbit tahun 2003 dan merupakan bagian dari 1.083 buku yang pernah ditulis mengenai Krakatau. Namun secara mengesankan buku ini tetap bisa menampilkan pembahasan berbeda, yang lebih menarik dan faktual. Ini tentu saja dikarenakan kekuatan penulisnya. Maka rasa salut yang luar biasa saya tujukan kepada penulisnya, yang demikian tekun mencermati dokumen-dokumen yang tersebar luas dan menarik tali-temali hubungan satu sama lain dalam jalinan cerita yang asyik untuk dibaca.

5/5

   
sudahkahkaubaca wrote on May 1
Makasih dah di confrm ...!
Sama-sama. Terima kasih sudah mampir.
j4uharry wrote on Apr 17
Makasih dah di confrm ...!
sudahkahkaubaca wrote on Jun 8, '11
astaga,,, senang sekali sya menemukan blog ini
saya justru senang, ternyata blog ini punya nilai guna juga.
sudahkahkaubaca wrote on Jun 8, '11
Matursuwun, mas Amang....
salam hangat fer...
ferryzanzad wrote on Jun 6, '11
Matursuwun, mas Amang....
wiedesignarch wrote on May 13, '11
astaga,,, senang sekali sya menemukan blog ini.. bnar2 membuat lapar saya makin tertebus dan saya bisa belajar lebih banyak dari jendela cakrawala yang Anda sajikan ini,,, teruskan,,, teruskan berbagi untuk saya dan sahabat lainnya...
sudahkahkaubaca wrote on Mar 15, '11
like this blog :)
Terima kasih untuk rasa sukanya. Senang bisa berbagi.
tumbasbuku wrote on Mar 14, '11
like this blog :)
sudahkahkaubaca wrote on Nov 18, '10, edited on Nov 18, '10
salam kenal juga, salam hangat buat @kantordirumah dan @mademelani
kantordirumah wrote on Oct 4, '10
salam kenal ^_^
mademelani wrote on Jun 15, '10
salam hangat! :)
sudahkahkaubaca wrote on May 25, '10
Wah, reviewnya keren nih Kang Amang... salam kenal ya :)
wah terima kasih juga dibilang keren... salam hangat untukmu.
sudahkahkaubaca wrote on May 25, '10
knock, knock...
kulonuwuuuuuuun.....
saya add yah, Om....
monggo pinarak didiet...
nmadiarti wrote on May 17, '10
Wah, reviewnya keren nih Kang Amang... salam kenal ya :)
sweetdhee wrote on Mar 7, '10
knock, knock...
kulonuwuuuuuuun.....
saya add yah, Om....
sudahkahkaubaca wrote on Feb 28, '10
dekatha said
wew, i love this blog. suka banget sama list bukunya.
jadi tahu beberapa judul buku yang kurang "populer" di telinga.
amat bersyukur ada yang turut suka blog ini. kirain gak ada yang suka euy. matur nuhun...
dekatha wrote on Jan 5, '10
wew, i love this blog. suka banget sama list bukunya.
jadi tahu beberapa judul buku yang kurang "populer" di telinga.
sudahkahkaubaca wrote on Nov 5, '09
salam kenal kang,

inspiratif blog, boleh di add jadi contact?!

makasih,
neena
Halo Neena, si elang jawa...

thanks dah mau jadi temanku.

salam hangat,
Amang
spizaetusbartelsii wrote on Oct 28, '09
salam kenal kang,

inspiratif blog, boleh di add jadi contact?!

makasih,
neena
sudahkahkaubaca wrote on Jul 8, '09
Halo mas Amang, disini kita ketemu lagi.. hehe
hai zev, sering-sering mampir ya.

Sudahkah Kaubaca

Blogger Buku Indonesia
Jakarta's Bookworms
Goodreads Indonesia
Alinea TV
Fans Berat Buku
Twitteriak